Sejarah Kami
A. Awal Mula Berdirinya Paroki Pati
Pada tanggal 25 Februari 1932, ada tiga orang Pastor MSF mendarat di Tanjung Priok Jakarta, sebagai misionaris pertama yang diutus oleh pimpinan Kongregasi Para Misionaris Keluarga Kudus dari negeri Belanda. Mereka adalah Pastor M.J.X Wilkens MSF, Pastor Johanes van der Steegt MSF, dan Pastor Nicholas Havenman MSF. Mereka bertiga tinggal di Pastoran Bangkong Semarang. Daerah pesisir pantai utara Jawa, seperti Pati, Kudus, Jepara, Pecangaan, dan Demak menjadi daerah yang secara berkala dikunjungi oleh para Pastor MSF, yaitu Pastor Nicholas Havenman MSF, Pastor AJ Raaymakers MSF, dan Pastor Johanes van der Steegt MSF. Berdasarkan kesepakatan para Pastor MSF yang berkarya saat itu, daerah-daerah tersebut digabungkan menjadi Stasi Pati yang merupakan stasi (wilayah pelayanan sementara) dari Paroki Atmodirono Semarang. Baptisan pertama Stasi Pati terjadi di Pecangaan Kudus pada bulan Maret tahun 1932.
Selama 2 tahun berjalan, Stasi Pati berubah menjadi Paroki Pati, tepatnya pada tahun 1934, dengan Pastor Kepala pertama yaitu Pastor Nicholas Havenman MSF (masa kepemimpinan tahun 1934 s.d tahun 1939). Setelah status stasi berubah menjadi Paroki, jumlah umat semakin berkembang. Hal ini dapat dilihat dari jumlah baptisan yang terjadi di Stasi Pati pada masa itu. Pada tahun 1939 Pastor Nicholas Havenman MSF digantikan Pastor Johanes Van Beek MSF dengan tugas khusus mempersiapkan Gereja Katolik di Kudus menjadi sebuah paroki.
Tanggal 25 Oktober 1951 merupakan awal Paroki Pati resmi ber-PGPM dan disahkan oleh Mgr. Albertus Soegijapranata. Susunan kepengurusan PGPM pertama Paroki Pati saat itu adalah sebagai berikut :
-
- Ketua : Petrus Stienen MSF
- Bendahara : Antonius van der Valk MSF
- Sekretaris : Tarcisius Josef Slamet Dwijaatmaka
- Anggota : Robertus Sumardja
- Anggota : Mathias Sugijana
Tahun 1956 tepatnya pada bulan Agustus, Pastoran Paroki Pati sempat menjadi Novisiat MSF Jawa. Pada saat itu ada 7 novis, Pastor Antonius van der Valk MSF sebagai magisternya. Salah satu dari ketujuh novis yang kemudian berhasil ditahbiskan sebagai imam adalah Pastor Petrus Canisius Joeda Dihardja MSF. Sebelum adanya novisiat MSF di Pati, para calon imam MSF menjalani tahun novisiatnya di negeri Belanda (Nieuwkrek). Di Paroki Pati inilah batu pertama pendidikan calon anggota MSF dimulai, dan kemudian dipindahkan ke Yogyakarta pada tahun 1957.
Paroki Pati terus berkembang dari tahun ke tahun hingga memiliki 4 gereja wilayah : Gereja Santa Maria Annuntiata Gabus, Gereja Santo Antonius Langse, Gereja Santa Theresia Tayu, dan Gereja Santa Maria La Sallete Juwana. Dari ke empat gereja wilayah ini, Gereja Santa Maria La Sallete cukup berkembang dengan baik, hingga pada tanggal 8 Juli 1966 Gereja Katolik Santa Maria La Sallete Juwana memisahkan diri dari Paroki Pati, dan menjadi Paroki Administratif Juwana. PGPM Gereja Santo Jusup, Paroki Pati resmi tercatat pada akta notaris nomor 60 tanggal 20 Mei tahun 1959, dan mengalami perubahan Anggaran Dasar pada 11 April 2001 dan masih terus berjalan hingga saat ini.